Senin, 15 September 2008

Sepotong cerita dari tsunami Aceh

Cerita ini bagus sekali. Di Forward Tami temen kantor, tapi ngga ada ditulis forward dari mana.
Nama bukunya Hafalan Sholat Delisa> Info dari temen sih belinya lewat web, di gramedia ngga ada.


Sepotong cerita dari tsunami Aceh

Salah satu buku bacaan real story tentang salah satu sisi tragedy tsunami Aceh. Buku ini bagus sekali. Kalo ada yang mo kasih hadiah buku buat anak tersayang, jangan lewatkan buku ini. Tidak terlalu tebal, mudah dan ringan dibaca, murah harganya, tetapi sarat dengan pelajaran tentang hidup, berserah diri, kesetiakawanan, perjuangan.. . Hafalan Surat Delisa Author : Tere-liye published 2007 by Republika Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran Islam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi Usman.Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si kembar) Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa.
Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadariny a sholat jama'ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal tanker perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali. Awalnya Delisa susah sekali dibangunkan untuk sholat subuh. Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah. Setiap sholat jama'ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat keras-keras agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan sholat itu. Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas kepada anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Begitu juga dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaan sholat agar sempurna. Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha keras agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu Abi Usman pun berjanji akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah membelikan seuntai kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa senang sekali dengan kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi entah mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. 26 Desember 2004
Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya nyaris sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa lupa bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisa mengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyak untuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramai oleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran Alisa Delisa. Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad Rahman tentang bagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya.
"Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya satu." Nah jadi kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di sekitar, tetap khusuk. Delisa pelan menyebut "ta'awudz". Sedikit gemetar membaca "bismillah". Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suara dan hatinya pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar". Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer. Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian mencuat. Mengirimkan pertanda kelam menakutkan. Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias lebur seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa, tepat ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti" , lantai sekolah bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian pertama kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik. Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh. Pecah berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa. Menembus bajunya. Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar. Anak-anak berhamburan berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu. Situasi menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"! "Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-mah-ya-ya, wa-ma-ma-ti. .." Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya Allah, Delisa takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah membasahi baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz Rahman, sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika punggungnya digigit kalajengking? Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama kalinya ia bisa membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin seperti sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah... Gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok sekolah. Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi yang berdiri di depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras ...SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi. Delisa ingin khusuk.. Tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunami sempurna sudah membungkusnya. . Delisa megap-megap. Gelombang tsunami tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnya keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih bersisa.
Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah "i'tidal..." "Al-la-hu-ak- bar..." Delisa harus terus membacanya! Delisa tidak peduli tembok yang siap menghancurkan kepalanya. Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum kepalanya menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy Allah." Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala mungil Delisa yang terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk, menyergap Kerongkongannya. Delisa terbatuk. Badannya terus terseret. Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki kanannya menghantam pagar besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis kanannya. Delisa sudah tak bisa menjerit lagi. Ia sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum berliter air keruh. Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darah menyembur dari mulutnya.. Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepas kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan sekencang yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil menghela nafas penuh arti, melepaskan papan itu dari tangannya pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang diatasnya. "Kau harus menyelesaikan hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nur berbisik sendu. Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. Ibu Guru Nur bersiap menjemput syahid.
Minggu, 2 Januari 2005 Dua minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya tersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yang pucat tak berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS berhasil menemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, tubuhnya dipenuhi bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau, menakjubkan! Delisa segera dibawa ke Kapal Induk John F Kennedy. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya. Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah juga sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan.Abi Usman hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari pingsan. Prajurit Smith memutuskan untuk menjadi mu'alaf setelah melihat kejadian yang menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya menjadi Salam. Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkan pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama para korban lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari diliputi duka. Tapi duka itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa kembali ke rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana. Delisa kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan anak-anak korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatan seadanya. Delisa kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Ia sama sekali tidak sulit menghafalnya. "Orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya, Delisa. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai salah seorang relawan yang akrab dengan Delisa. 21 Mei 2005 Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah bukit. Hari itu Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak terbolak-balik. Delisa bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai sholat, Delisa terisak. Ia bahagia sekali. Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah. Mereka belajarmenggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember plastik. Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci tangan di sungai dekat dari situ. Ketika ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burung belibis terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya.. Delisa terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu diseberang sungai. Kemilau kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja. Sesuatu itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah. Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut. Ada huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatas semak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut di tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia.Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu. UMMI........ .......

Kamis, 11 September 2008

Senin, 08 September 2008

The 7 Children In "The Sound of Music






After 40 Years "The Sound of Music" is a 1965 film.
It won the Academy Award for Best Picture of 1965 and is one of the most popular musicals ever produced.

Still remember the 7 children of the Trapp family?

They were having a reunion after 40 years and all were looking healthy and amazingly well.....

Aduuuh ini my fav. Amazing memang melihat mereka oke2 aja ...
keep singing !! hehehehe (ldf/090908)
















Mentega Wysman

Posting NCC

Coba bantu ya, sekitar 2 tahun lalu wysmand sdh halal. Di kemasan memang tidak ada logo halalnya tapi di Jurnal Halal MUI dinyatakan wysmand sdh halal. Tapiiiiii... di Jurnal Halal MUI tahun ini udh gak ada lagi tuh keterangan Wysmand halal, biasanya di Jurnal Halal MUI yg terbit 2 bulan sekali info produk produk yg sdh halal pasti akan selalu sama isinya antara edisi 2 bulan lalu dgn edisi bulan ini, dan jika ada produk yg baru sertifikasi halal di info juga kok di JH MUI. Aku sih ud gak pernah pake lagi takut jatuhnya meragukan. Masih banyak pilihan lain yg sdh halal kok.

Salam Halal

Rifda

Jumat, 05 September 2008

Hukum Allah SWT

Hukum Allah SWT terbagi atas 2 macam yaitu :

1. Hukum Takwini (penciptaan)
2. Hukum Tasyri'i (penentuan syariat)

Hukum Takwini adalah semua aturan ilmiah atau hukum sains yang harus dipatuhi alam semesta dalam proses pembentukan dan perkembangannya.

Hukum Tasyri'i adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada para nabi untuk disampaikan kepada umat manusia, agar mereka mengambil dan menjalankannya.

Bila dinisbat pada diri kita, sebagai manusia maka hukum Takwini keberadaannya mendahului hukum Tasyri'i. Dalam hukum takwini tidak ada kebebasan. Makluk Allah SWT tidak bisa menentukan pilihannya karena sudah merupakan ketetapan. Sementara hukum Tasyri'i ada ruang yang luas bagi kebebasan Mahluk Allah SWT untuk menentukan kehendaknya.

Salah satu contohnya adalah penciptaan langit dan bumi, cukup dengan firman Allah , "Kun ", maka jadilah. Langit tidak bisa menentukan pilihan apakah ia harus ada atau tidak, begitu pula bumi beserta hukum yang berlaku di dalamnya. Itu merupakan contoh Hukum Takwini.

Sementara contoh hukum Tasyri'i adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada para Nabi untuk disampaikan kepada umat manusia, agar mereka mengambil dan menjalankannya. Tidak ada paksaan untuk menjalankannya.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). (QS. Al Baqarah ayat 256)

Dan didalam surat lainnya :

Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir (QS. Al Kahfi:29)

Sementara contoh hukum Takwini adalah :

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi :

'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.'

Keduanya menjawab , ' Kami datang dengan suka hati'.

Jika dinisbatkan kepada manusia maka hukum Takwini termasuk sesuatu yang gaib.

Allah telah menciptakan langit dan bumi, sementara kita tidak pernah melihat Allah SWT menciptakannya. Kita tidak tahu kapan semua semua itu diciptakan, bagaimana semua itu menjadi ada, dan dengan cara apa atau memakai sara apa penciptaan itu. Kita juga tidak mengetahui sejarah penciptaan langit dan bumu dengan pasti.

Proses penciptaan dan bagaimana penciptaan itu terjadi adalah rahasia yang terkunci rapat. Hanya Allah semata yang mengetahuinya. Adapun materi penciptaan dapat kita cari dan kita selidiki semau kita. Banyak sekali ilmu yang mempelajari danmengupas tentang penciptaan langit dan bumi ini. Sementara bagaimana penciptaan itu terjadi adalah sesuatu yang gaib. Kita tidak tahu kecuali yang Allah beritahukan kepada kita. Dalam Al Qur'an. Allah SWT menjelaskan kepada kita bahwa langit dan bumi diciptakan dalam enam hari. Allah SWT berfirman :
" Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy" (QS. As-Sajdah:4)

Allah memerintahkan langit, bumi dan segala yang ada didunia ini tersusun dalam enam hari. Jadi seluruhnya tercipta dalam waktu enam hari. Enam hari disini adalah hari-hari bagi Allah. Dan hari-hari Allah tidak sama dengan hari kita. Hari-hari kita ini adalah hari yang kita jalani sekarang di muka bumi. Perbedaan itu terjadi karena alasan yang sangat sederhana. Kita menghitung hari dengan berpedoman pada rotasi bumi terhadap matahari. Sedangkan Allah berbicara tentang hari yang qadim atau 'azali', yang lebih dulu ada daripada bumi dan matahari.

Jadi perhitungan yang dipakai berbeda. Barangkali, enam hari bagi Allah SWT kalau kita hitung dengan memakai perhitungan hita sekarang ini mencapai beribu2 tahun atau berjuta 2 abad, atau lebih banyak dari itu, atau kurang dari itu. Atau barangkali, perhitungan Allah sama sekali tidak seperti itu. Yang pasti perhitungan itu termasuk sesuatu yang gaib, dan kita tidak boleh untuk menafsirkannya. Juga, kita tidak diperbolehkan mendalaminya tanpa disertai ilmu pengetahuan.

Kita tidak tahu masalah kegaiban, kecuali yang dijelaskan oleh Allah SWT kepada kita. Kegaiban adalah suatu hal yang akal kita tidak mampu mencernanya, atau suatu zaman yang kita tidak mampu menemukannya. Segala sesuatu yang gaib, dan Allah telah menjelaskannya, cukuplah kita mempercayainya.

Allah telah menjelaskan kepada kita bahwa penciptaan langit, bumi dan segala yang ada di alam ini terjadi dalam enam hari, kemudian Allah SWT bersemayam diatas Arsy. Maka segala sesuatu di alam ini tunduk kepada Nya, segala sesuatu di alam ini mendekat kepada Nya, segala sesuatu di alam ini bersujud kepada Nya, segala sesuatu di Alam ini menyucikan Nya segala sesuatu di alam ini berada dalam genggaman kekuasaan Nya, dan segala sesuatu di alam ini membutuhkan Nya.

Dia adalah Zat yang mahakaya, yang tidak membutuhkan sesuatupun. Sebaliknya, segala sesuatu yang ada di alam ini membutuhkan Nya.

Selesailah segalanya. Kehendak Allah telah terwujud dan terjadi. Allah menciptakan alam semesta. Setelah alam diciptakan, ia bersujud kepada Tuhan sang pencipta alam. Mereka sujud bersimpuh, memohon dan meratap. Mereka sujud, berserah diri terhadap keputusan Sang Pencipta dan Pengatur Alam.

Semoga bermanfaat. Sekedar disarikan dari penggalan isi buku berjudul Nabi Nabi Allah karangan Ahmad Bahjat karya referensial internasional Best Seller, sebagai ungkapan terima kasih yang mendalam atas tulisanya yang begitu bermanfaat bagi ruh saya. (ldf/050908)

Kamis, 04 September 2008

Renungan Jumat

Renungan Jumat tentang pintu khusus untuk orang puasa. Dari Sahal bin Sa'ad ra., katanya Rasulullah SAW bersabda :" Didalam surga ada sebuah pintu yang disebut Ar Rayyan. rang orang yang diperkenankan masuk ke surga melalui pintu itu pada hari kiamat kelak hanyalah orang-orang yang puasa, sedangkan yang lain-lainnya tidak diperkenankan. Mereka akan dipanggil, "Hai orang puasa! maka masuklah mereka melalui pintu itu. Setelah orang yang terakhir masuk, pintu itu segera ditutup dan dikunci, sehingga yang lain-lain tidak dapat lagi melaluinya."

(HR. Shahih Muslim no. 1019)

Rabu, 03 September 2008

Asha sudah hafal Abjad

Saya lagi hepi banget hari ini. Asha semalam sudah bisa menghafal abjad lengkap, sudah kenal semua huruf-hurufnya. Dan dia malah sudah bisa membalik2 nya, seperti M diputar 180 derajat menjadi W, N diputar 90 derajat menjadi Z begitu pula sebaliknya. e diputar balik menjadi G. d menjadi p. s menjadi 5. Ia sudah lama hafal angka dari satu sampai 10 bahasa inggris maupun indonesia, sementara 11 hingga 20 masih suka ngaco2. Untuk yang 11-20 Asha lebih cepat menghafal bahasa inggrisnya daripada indonesianya. Dan dia juga suka membalik hurf 9 menjadi 6 dan bilang, "ini sembilan, kalau ini enam", sambil diputar2.

Asha juga bisa membaca abjad dari arah atas. Jadi dia sudah paham benar abjad tersebut walaupun hurufnya di balik2. Padahal bicaranya juga masih belum lancar.

Asha umurnya 2 tahun 8 bulan lebih.

Aaah mungkin semua ibu bangga pada anaknya, dan menganggap anaknya paling pintar. hehehe... tapi saya benar2 bangga dan tidak bisa menyembunyikannya. (ldf/3 sept 08)